Sekitar 9 dari 10 warga Jogja, diduga belum pernah merasakan sensasi swafoto berlatar Tugu Jogja atau plang Jalan Malioboro. Ada stereotip bahwa tempat-tempat tersebut hanyalah objek hiburan semata bagi para turis untuk mempercantik unggahan di instastory. Bisa dikatakan bahwa kurang lengkap rasanya berkunjung ke Jogja jika belum berpose di lokasi-lokasi tersebut. Di sisi lain, jika ada warga asli Jogja yang berfoto di plang Malioboro maupun Tugu, seringkali menimbulkan pertanyaan tentang keaslian identitasnya dengan dugaan dia mungkin hanya "Jogja KTP", namun bisa saja dirinya sedang menemani tamu atau saudara yang berkunjung. Meskipun demikian pandangan tersebut tak sepenuhnya benar. Terlepas dari fenomena lucu yang terjadi di masyarakat, setiap individu baik turis maupun warga lokal berhak mengabadikan momen berharga mereka bersama Kota ini. Berbahagialah bagi mereka yang merasa pernah melakukannya, karena mungkin saja itu menandakan sesuatu yang istimewa seperti Kotanya. Bagi saya pribadi, hal-hal semacam itu bukanlah hal yang terlalu penting. Meskipun Tugu Jogja telah menjadi simbol kebanggaan kota, ada satu hal yang menurut saya lebih menarik perhatian dan memiliki nilai sejarah yang tak kalah dalam untuk dibagikan, Tugu Gamping.
Bila kamu datang dari Ringroad Selatan langsung saja menuju Ambarketawang. Tepat di pinggiran Jalan Wates sebelum jembatan Sungai Bedog dapat dijumpai kembaran Tugu Jogja, bangunan itu bernama Tugu Gamping. Disebut demikian karena wujud fisik dari Tugu Gamping bisa dibilang menyerupai Tugu Jogja. Mulai dari bagian atas yang lancip, ornamen-ornamen, hingga prasasti yang terdapat di sisi Tugu. Perbedaan paling ketara adalah nasib mereka yang berbanding terbalik. Terletak di pinggiran Kota jauh dari hingar bingar pariwisata, menjadikan keberadaannya kurang mendapat perhatian. Lain halnya dengan Tugu pusat Kota yang terawat dan selalu dikunjungi wisatawan, sementara itu Tugu Gamping berdiri di sudut jalan beratap papan reklame yang kini tubuhnya kian berlumut dan usang dimakan oleh waktu. Namun, di sinilah letak keunikannya. Tugu Gamping dengan keberadaannya yang lebih sederhana, menyimpan makna mendalam bagi masyarakat setempat yang menghargai perjalanan dan perjuangan sejarah Kota ini.
Dibangun pada tahun 1941, keberadaan Tugu ini bukanlah tanpa alasan. Tugu Gamping didirikan sebagai simbol peringatan kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dengan nama lain Gusti Raden Mas Dorojatun. Beliau dinobatkan menjadi Raja pada Senin Pon, 18 Maret 1940 menggantikan Ayahnya yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang meninggal karena sakit. GRM Dorojatun menjadi Raja dengan menyandang gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kandjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah Kaping IX. Sejarah kenaikan tahta tersebut tertulis dalam prasasti yang terdapat pada salah satu sisi Tugu Gamping. Berbunyi: “MAHARGJO; DJOEMENENGDALEM SAMPEJANDALEM HINGKANG SINOEHOEN HINGKANG - DJOEMENENG KAPING IX 18 MAART 1940”.
Kala pelantikan, beliau berpidato dengan nada progresif. Ada satu kalimat yang sampai saat ini masih dikenang oleh banyak orang, kalimat itu berbunyi: “Saya memang berpendidikan barat tapi pertama-tama saya tetap orang Jawa”. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dirinya memiliki pendirian teguh, dan menjunjung tinggi identitasnya sebagai orang Jawa. GRM Dorojatun memang dikenal sebagai pribadi yang berpendidikan. Semasa mudanya GRM Dorojatun menghabiskan waktunya di luar lingkungan Keraton. Sejak umur 4 tahun beliau dititipkan kepada Keluarga Mulder. Mulder adalah seorang Belanda sekaligus Kepala Sekolah NHJJS (Neutrale Hollands Javanesche Jongen School). Meskipun dari keluarga bangsawan, GRM Dorojatun terdidik untuk hidup layaknya rakyat biasa,hidup sederhana dan mandiri tanpa seorang pengasuh.
Rekam jejak pendidikan GRM Dorojatun cukup mengesankan. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Yogyakarta, beliau melanjutkan ke Hogere Burgerschool di Semarang dan Bandung. Belum selesai menuntaskan jenjang pendidikan di HBS, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII selaku ayahnya memutuskan untuk mengirimkan GRM Dorojatun ke Belanda. Selesai Gymnasium beliau melanjutkan pendidikan ke Universitas Leiden Belanda, di sana beliau mendalami ilmu hukum tata negara. Semasa di Belanda GRM Dorojatun aktif mengikuti kegiatan mahasiswa seperti klub debat, hal itu membuatnya berteman dekat dengan Putri Juliana yang kelak menjadi Ratu Belanda.
Tepat pada 17 Agustus 1945, sebuah negara baru lahir di negeri ini. Proklamasi telah dikumandangkan oleh Soekarno, Hatta, menandakan akhir dari perjuangan melawan penjajahan asing. Kala itu GRM Dorojatun yang sudah diangkat menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono IX, menyikapi hal tersebut dengan mengirimkan telegram ucapan selamat yang ditujukan pada para proklamator. 5 September 1945 maklumat dikeluarkan. Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyatakan bahwasanya Yogyakarta adalah bagian dari Indonesia. Peristiwa tersebut menjadi tanda dimulainya era baru Yogyakarta, dimana dia bukan lagi negara yang berdiri sendiri melainkan bagian dari negara Republik.
Perubahaan ini didukung sepenuhnya oleh rakyat, yang kemudian ditunjukan dengan pengabdian yang total. Sri Sultan Hamengku Buwono IX memainkan peran penting dalam pemerintahan Republik, beliau adalah tokoh di balik layar yang menyelamatkan Indonesia di waktu genting pasca proklamasi. Ketika negara yang baru lahir ini mengalami begitu banyak persoalaan, salah satunya tekanan dari Kolonial Belanda yang datang kembali. Sri Sultan Hamengku Buwono IX, mengundang para tokoh bangsa untuk melaksanakan pemerintahan dari Yogyakarta. Beliau menegaskan Yogyakarta bersedia menjadi Ibu Kota sementara Republik Indonesia yang baru berdiri kala itu. Pengabdian beliau pada Republik juga ditunjukan dalam wujud dukungan finansial. Sebagai negara baru tentu saja Indonesia belum memiliki dana yang cukup untuk menjalankan pemerintahan, oleh karenanya Sri Sultan Hamengku Buwono IX memutuskan untuk menyumbangkan harta Keraton senilai 6,5 juta gulden melalui Soekarno yang kemudian menjadi kas awal Republik Indonesia.
Kurang lebih 3 tahun Yogyakarta menjadi Ibu Kota Republik Indonesia. Selama masa pemerintahan, semua urusan pendanaan diambil dari kas keraton, meliputi gaji Presiden/Wakil, Staff, Operasional dll. Sri Sultan Hamengku Buwono IX sama sekali tidak memperhitungkan jumlah nominal yang disumbangkan, baginya hal itu adalah wujud pengabdian. Beliau juga menyampaikan kepada penerusnya supaya tidak meminta kembali harta keraton yang dulunya telah disumbangkan kepada Republik.
17 Desember 1949, ketika Soekarno-Hatta dan para staff kabinet harus kembali ke Jakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengucapkan salam perpisahan dengan berat hati. Ujarnya “Yogyakarta sudah tidak memiliki apa-apa lagi, silakan lanjutkan pemerintahan ini di Jakarta”. Perpisahaan itu sekaligus melengkapi sabdanya pada telegram yang dikirimnya kala itu “Sanggup berdiri di belakang pimpinan Paduka Yang Mulia”. Begitulah kisah sedikit dari banyaknya pengabdian Sri Sultan Hamngku Buwono IX kepada Indonesia. Hingga saat ini namanya masih melekat dan memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Yogyakarta. Kebetulan setiap berangkat ke sekolah saya selalu menuju arah timur dan melewati Tugu Gamping, tak lupa menyempatkan pandangan ke arah Tugu yang kurang perhatian itu. Ketika menatapnya muncul rasa bangga menjadi warga asli Gamping, dan bersyukur Kota ini pernah memiliki pemimpin besar seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX, seorang Raja dalam Republik.