Tuesday, 27 May 2025

Ruang Tamu, Ruang Makan, Dapur

 Ruang Tamu

Di jantung rumah yang diam membatu

Kursi lapuk merunduk dalam doa ratu surga

Meja menjelma altar tanpa sesaji

Dan jam dinding menguap pukul tengah hari


Gorden menggantung seperti ingatan

Terayun pelan oleh angin yang lupa pulang

Cahaya sore memudar di cangkir dan toples kosong

Seperti janjimu yang akan kembali bertamu


Ruang tamu ini bukan lagi tempat perjamuan

Melainkan reruntuhan rindu yang tak bersarang

Segalanya hadir tak berwujud

Sebuah pameran hampa tanpa mata yang saling menatap


Di sinilah kehampaan bersandar

Menghisap makna dari setiap benda

Menyisakan ruang

Yang hanya bisa diisi oleh kehilangan




Ruang Makan 

Di meja panjang yang menjelma medan perang

Sendok dan garpu berdenting seperti senjata

Mangkuk dan piring menjelma perisai ego

Lidah menjadi pedang yang melukai rasa


Santapan tak lagi berkat

Melainkan validasi yang dikunyah dengan gigi taring

Dan tawa topeng dari lapar yang tak berujung

Mereka makan bukan karena lapar

Melainkan demi mengunyah kemenangan


Sungguh ini bukan perjamuan

Melainkan pertunjukan lapar akan pengakuan

Di panggung bernama meja makan

Dengan kerakusan akan sorotan




Dapur

Dapur adalah altar api yang berserah

Tempat amarah direbus hingga menguap

Dan kebencian larut dalam kuah sop bakso masakan uti

Yang tiap suapnya selalu meneduhkan hati


Pisau tak lagi melukai

Hanya memotong nafsu membelah gelisah

Tikus yang berlarian bukanlah seorang juru masak

Minyak yang tumpah juga bukan akhiran


Aku adalah peziarah dalam diri

Mengaduk rempah dalam doa sunyi

Menyajikan damai

Dari bara api yang mati

 



AKU DI MATRAMAN, KAU DI KOTA KEMBANG.

M atraman, Minggu pagi, 26 Juli 2026. Jalanan Tambak mendadak berubah  menjadi arena kekerasan. Dalam hitungan menit, kerumunan berkumpul, p...