Ruang Tamu
Di jantung rumah yang diam membatu
Kursi lapuk merunduk dalam doa ratu surga
Meja menjelma altar tanpa sesaji
Dan jam dinding menguap pukul tengah hari
Gorden menggantung seperti ingatan
Terayun pelan oleh angin yang lupa pulang
Cahaya sore memudar di cangkir dan toples kosong
Seperti janjimu yang akan kembali bertamu
Ruang tamu ini bukan lagi tempat perjamuan
Melainkan reruntuhan rindu yang tak bersarang
Segalanya hadir tak berwujud
Sebuah pameran hampa tanpa mata yang saling menatap
Di sinilah kehampaan bersandar
Menghisap makna dari setiap benda
Menyisakan ruang
Yang hanya bisa diisi oleh kehilangan
Ruang Makan
Di meja panjang yang menjelma medan perang
Sendok dan garpu berdenting seperti senjata
Mangkuk dan piring menjelma perisai ego
Lidah menjadi pedang yang melukai rasa
Santapan tak lagi berkat
Melainkan validasi yang dikunyah dengan gigi taring
Dan tawa topeng dari lapar yang tak berujung
Mereka makan bukan karena lapar
Melainkan demi mengunyah kemenangan
Sungguh ini bukan perjamuan
Melainkan pertunjukan lapar akan pengakuan
Di panggung bernama meja makan
Dengan kerakusan akan sorotan
Dapur
Dapur adalah altar api yang berserah
Tempat amarah direbus hingga menguap
Dan kebencian larut dalam kuah sop bakso masakan uti
Yang tiap suapnya selalu meneduhkan hati
Pisau tak lagi melukai
Hanya memotong nafsu membelah gelisah
Tikus yang berlarian bukanlah seorang juru masak
Minyak yang tumpah juga bukan akhiran
Aku adalah peziarah dalam diri
Mengaduk rempah dalam doa sunyi
Menyajikan damai
Dari bara api yang mati