Monday, 3 August 2026

AKU DI MATRAMAN, KAU DI KOTA KEMBANG.

Matraman, Minggu pagi, 26 Juli 2026. Jalanan Tambak mendadak berubah menjadi arena kekerasan. Dalam hitungan menit, kerumunan berkumpul, pukulan dan lemparan saling berbalas, sementara rasa kemanusiaan seolah kalah oleh amarah kolektif. Di saat-saat seperti itu, nyawa manusia tak ada harganya ketika identitas kelompok lebih diutamakan daripada kehidupan itu sendiri.

Peristiwa kemarin bukanlah yang pertama. Ia hanya menambah daftar panjang konflik horizontal yang berulang di kawasan ini. Setiap kali nama Matraman kembali menghiasi laman pemberitaan, yang muncul bukanlah sekadar masalah geografis di peta Jakarta, melainkan ingatan tentang kekerasan, konflik, dan ketegangan yang seolah belum benar-benar usai.


Source: Single Cover, Matraman The Upstairs

Namun di lain cerita, nama Matraman dapat kita jumpai bukan karena sebuah tawuran pelajar, ia pernah diabadikan dalam sebuah lagu tentang cinta. Mari kita kenalan singkat dengan The Upstairs, sebuah band beraliran new wave yang lahir pada 5 Oktober 2001 di Jakarta, buah pemikiran dari Jimi Multazam(Vocal) dan Kubil Idris(Guitar). Band yang semua anggotanya berasal dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu dikenal sebagai rajanya pensi pada jamannya. Salah satu karya The Upstairs pernah memotret wajah Ibu Kota, khususnya kawasan Matraman dengan segala hiruk-pikuk dan denyut kehidupannya lewat lagu berjudul “Matraman”. Menariknya lagu itu tidak berbicara tentang konflik sebagai poin utamanya, melainkan berbicara tentang adanya kisah asmara yang pernah mampir di sana.

MATRAMAN

Demi trotoar dan debu yang berterbangan
Ku bersumpah
Demi celurit mistar dan batu terbang pelajar
Ku ungkapkan

Atas nama orang-orang
Berdatangan ke utara
Kau kan ku jelang

Kan ku persembahkan
Sekuntum mawar
Aku di Matraman
Kau di Kota Kembang

Demi jembatan layang meluncur dari Pramuka
Ku sandarkan
Demi polisi dan kantornya yang di seberang
Pengetikan

Orang-orang mulai lengang
Perempuan malam berdatangan
Dan ku bertahan

Kan ku persembahkan
Sekuntum mawar
Aku di Matraman
Kau di Kota Kembang

Penulis Lagu: Jimi Multhazam

Source: Instagram post @jimi_multhazam

Menurut pengakuan Jimi, saat diinterview oleh Kompas. Dirinya bercerita tentang kisah di balik terciptanya lagu Matraman. Kala itu dirinya sedang duduk-duduk di pelataran bersama kawan-kawannya, lalu kemudian datang seorang sohib bernama Cocot dengan muka murung, ternyata si Cocot ini habis putus dengan pacarnya yang cantik, dan ingin balikan. Nama mantannya ini adalah Dewi, yang kebetulan satu kampus bersama Cocot di IKJ dan rumah Dewi ada di Priok. Jimi yang mendengar itu langsung punya ide untuk menyuruh Cocot membawakan sekuntum mawar, lalu menunggu di Matraman tempat Dewi akan turun. Singkat cerita ketika Jimi dan kawan-kawannya sedang asik nongkrong di Taman Ismail Marzuki, Cocot kembali datang dengan mukanya yang masih murung. Ia sudah melakukan apa yang Jimi sarankan, dirinya sudah menunggu lama sampai malam pun tiba, namun gadis yang dinanti tak kunjung datang, rupanya Dewi sedang berada di Kota Kembang atau Bandung. Mendengar nasib Cocot yang melas itu Jimi dan kawan-kawan spontan tertawa lepas atas kegoblokan sohibnya satu itu. “Saat semua tertawa-tawa, Gue langsung menyanyikan reffren nya, Aku di Matraman… Kau di Kota Kembang…” Jimi Multhazam.

Jadi begitulah kira-kira cerita di balik lagu Matraman yang fenomenal. Gaya penulisan Jimi Multhazam memang tak diragukan lagi, selalu brilian, selalu terngiang, dan membekas. Beliau adalah salah satu panutan saya dalam menulis. Perlu diketahui juga, Jimi pencipta sekaligus penulis 2 lagu yang masuk daftar lagu terbaik versi Rolling Stones Indonesia yaitu: Konservatif dan Matraman. Lewat lagu Matraman-The Upstairs, kita diingatkan bahwa sebuah kota selalu menyimpan lebih banyak cerita daripada yang tampak di permukaan.




AKU DI MATRAMAN, KAU DI KOTA KEMBANG.

M atraman, Minggu pagi, 26 Juli 2026. Jalanan Tambak mendadak berubah  menjadi arena kekerasan. Dalam hitungan menit, kerumunan berkumpul, p...