Jalanan kusam berlubang Joni menahan lapar sembari terlamun di bahu jalan. Musim hujan datang terkunci namun ia sudah kuyup sejak tadi pagi. Matanya sayu menatap aspal dalam-dalam mencari adakah potensi dalam dirinya. Sudah genap 28 tahun hidupnya, dan sampai saat ini belum ada pencapaian yang bisa ia banggakan selain piagam juara harapan sabung ayam desa setempat. Angin sore berhembus membawa bau aspal basah dan sisa daun yang teraduk genangan. Joni menarik napas panjang, bukan untuk menguatkan diri, hanya sekadar memastikan paru-parunya masih bekerja. Perutnya kembali bergejolak, menuntut lapar yang tak kunjung kenyang.
Dari seberang jalan sebuah warung tenda biru mulai menyalakan lampu. Cahaya kuningnya memantul di lubang-lubang jalan menciptakan ilusi yang nampak seperti ejekan. Joni merogoh saku celananya, menemukan uang kembalian yang kusut dan lembab, jumlahnya tak cukup bahkan untuk sebungkus nasi kucing. Mencoba menerima keadaan, Ia hanya bisa menelan ludah. Ingatan Joni melompat ke rumah sederhana di kampungnya, ke Ibu yang selalu berkata bahwa hidup tak harus menang besar, asal jangan kalah oleh diri sendiri. Kalimat itu kini terdengar seperti nasihat yang sengaja datang.
Joni berdiri, membersihkan celananya dengan gerakan asal.
Langkahnya gontai seolah lubang jalan menahan kakinya. Di sudut gang ia
menemukan poster lusuh bertuliskan lowongan pekerjaan yang sebagian hurufnya
sudah terkelupas. Ia berhenti sejenak, membaca dengan mata penasaran, tak ada
janji besar di sana, hanya upah harian dan jam kerja yang panjang. Hujan
kembali turun lebih deras dari sebelumnya. Joni tersenyum tipis, senyum yang
nyaris tak layak disebut senyum. Ia melipat poster itu dengan hati hati,
menyelipkannya ke saku, lalu melangkah menembus hujan di sepanjang jalan R.W
Monginsidi. Jalanan tetap kusam dan berlubang, hidupnya pun masih begitu, namun
untuk pertama kalinya hari itu Joni tak hanya duduk diam di bahu jalan.