Sunday, 6 July 2025

Ciu Cinta dan Angkringan Pakdhe Sorjo

Di sebuah desa kecil bernama dusun Gampunk, malam-malam selalu hidup di bawah pohon beringin angkringan Pakdhe Sorjo. Asap wedang jahe bercampur aroma gorengan panas, dan suara tokek bertarung dengan tawa warga yang duduk lesehan.

Dari kejauhan nampak langkah kaki Joni menembus dinginnya malam. Ia datang dengan gaya khasnya: sandal jepit selen, kaos oblong bertuliskan "Dekengane Wong Pusat", dan rambut acak-acakan yang lebih mirip sangkar burung.

"Pakdhe... segelas teh manis panas. Tapi manisnya jangan kayak gadis yang duduk di seberang sana." ucap Joni sambil menghisap sebatang Aspro.

Pakdhe Sorjo tertawa sambil menuang teh dari tremos yang sudah lelah. "Joni, kamu ini... masih aja pikirannya soal wanita. Sini tak tambahi tempe mendoan biar hatimu rada kriuk-kriuk."

Sambil menyeruput teh, Joni berbisik pelan "Pakdhe, aku dengar kabar dari mas-mas karang taruna katanya ada ciu baru racikan Mbah Kricak. Katanya sih bisa bikin pria jadi berani PDKT sama lawan jenis."

Pakdhe Sorjo berhenti mengaduk wedang uwuh. Matanya menyipit curiga. "Ciu racikan Mbah Kricak? Waduh, itu bukan sembarang ciu. Kamu tau sendiri kan Pak RT itu meskipun sudah menginjak kepala 4 tapi baru 3 hari yang lalu dia memberanikan diri menikah, setelah sekian lama melakukan sendiri dengan tangan. Ada desas-desus beberapa minggu sebelum pernikahan, Pak RT kerap kepergok warga mondar-mandir ke rumah Mbah Kricak dan tak jauh dari halaman rumah Pak RT ditemukan beberapa botol ciu dengan cap hati yang terpanah."

Joni terkekeh. "Wah, berarti manjur Pakdhe! bisa buat dapetin jodoh."

"Hidupmu itu bukan butuh jodoh Jon, butuh kerjaan tetap!"

Sambil tertawa-tawa, datanglah Gendut sahabat Joni yang selalu jadi korban eksperimen kuliner desa. "Eh Jon, coba lihat ini aku dapet botol kecil ciu racikan Mbah Kricak. Tapi kayaknya ini versi terbaru, ada label Ciu Cinta..."

Joni mendelik. "Ciu Cinta? Jangan-jangan ini yang bikin Pak RT dapet jodoh perawan muda."

Pakdhe Sorjo menepuk jidat. "Astaga desa ini makin absrud!"

Tanpa pikir panjang, Joni menuang ciu cinta itu ke bekas gelas teh poci. Dia menatap Gendut "Demi cinta Ndut. Kalau besok aku nekad ngelamar Mbak Rani panjual warung madura, tolong ingatkan aku bahwa ini semua salah cium."

Seteguk demi seteguk, Joni mulai mengeluarkan unek-unek "Pakdhe... sebetulnya aku cinta sama Mbak Rani... tapi aku malu Pakdhe... aku sering ngutang di warungnya, meskipun begitu Mbak Rani tetap melayaniku dengan senyum manisnya."

Semua yang duduk di angkringan mulai tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan Pak Babin yang kebetulan sedang patroli naik pit ontel sampai berhenti. "Lha ini kenapa Joni pidato kayak caleg kalah?"

Joni bangkit berdiri di atas lincak. "Saudara-saudaraku sekalian! Jika cinta harus diperjuangkan, maka perjuanganku adalah menghadap Mbak Rani dan berkata... Bolehkah saya mencintaimu selama 24 jam seperti dirimu yang senantiasa menjaga warung?"

Gendut hampir tersedak gorengan, Pakdhe geleng-geleng kepala. Malam itu berakhir dengan Joni tertidur di angkringan sambil memeluk botol Ciu Cinta yang isinya tinggal setetes. Pakdhe Sorjo hanya bisa berkomentar, "Cinta memang butuh keberanian, tapi jangan minum ciu dulu baru berani. Joni sedikit tau tentang cinta, selebihnya, dia sok tau."

Dan sejak saat itu, Ciu Cinta dilarang beredar di kampung Gampunk demi kesehatan mental warganya. Tak berselang lama, Mbah Kricak ditemukan tutup usia diduga serangan jantung setelah mencoba racikan barunya yang bernama Ciu Wareng.

 

No comments:

Post a Comment

AKU DI MATRAMAN, KAU DI KOTA KEMBANG.

M atraman, Minggu pagi, 26 Juli 2026. Jalanan Tambak mendadak berubah  menjadi arena kekerasan. Dalam hitungan menit, kerumunan berkumpul, p...