Thursday, 12 September 2024

Merawat Cita Tak Semudah Kata. GAS! - FSTVLST

“Berjalan Tak Seperti Rencana Adalah Jalan Yang Sudah Biasa.”



Pada ulasan ini saya ingin sedikit bercerita tentang FSTVLST dibaca Festivalist. Sebuah band beraliran Almost Rock Barely Art. Terlahir pada 2011 di kampus seni rupa Sewonderland. FSTVLST adalah transformasi dari Jenny yang sudah terbentuk pada tahun 2003 silam. Diprakarsai oleh Farid Stevy - Vokal, Roby Setiawan - Guitar, Humam Mufid - Bass, Danish Wisnu - Drum, Rio Faradino - Keyboard.

Karya FSTVLST dan orang - orang di dalamnya cukup berpengaruh di hidup saya. mulai dari pandangan hingga cara menjalani dan menyikapi suatu peristiwa dalam kehidupan baik itu suka ataupun luka. Bagi saya FSTVLST bukanlah sekedar band yang berisi bapak - bapak keren. Lebih dari itu FSTVLST hadir sebagai falsafah hidup anak muda seperti saya dengan segala ceritanya.

Beberapa track seperti Gas, Hujan Mata Pisau, Satu Terbela Selalu, dan Menantang Rasi Bintang. Bagaikan ayat - ayat dalam doa yang selalu dihafal dan dirapalkan di setiap waktunya. Awal pertemuan dengan FSTVLST adalah 3 tahun lalu. Kala itu saya duduk di bangku SMP. Masih teringat setiap perjalanan dari rumah menuju sekolah selalu ditemani dengan GAS! yang berkumandang di speaker mobil Bapak. Lama kelamaan saya mulai mendengarkan lagu yang lain, ya walaupun terdengar antimainstream dan asing pada awalnya. Entah mau dibawa kemana genre yang dibawakan band ini, dibilang rock juga gak keras-keras banget namun tiap liriknya ditulis kritis. Dan akhirnya mereka menciptakan genre nya sendiri yaitu Almost Rock Barely Art, memang band yang suka mutusi dewe. Sejak saat itu, panggung demi panggung FSTVLST selalu saya upayakan untuk dikunjungi dan menemani di setiap akhir pekan.


9 September 2018. FSTVLST merilis single baru berjudul ‘GAS!’, salah satu track dari album II. Lagu ini cukup mewakili kegagalan namun diimbangi dengan optimisme yang membakar dari dalam diri. Mengubah rasa keputusasaan menjadi semangat perlawanan, seolah mengingatkan kembali pada kita. Bahwa setiap manusia yang hidup pasti memiliki rencana dan cita - cita lalu akan gagal pada waktunya. Kegagalan tersebut menjadi simbol manusia yang hidup. Dan dari setiap kegagalan pastinya akan membuka lembaran baru. Di sini kita diajarkan untuk dapat menerima keadaan walaupun jauh dari pengharapan. Dan tetap GAS! melaju kencang di rute yang tak selalu aman. Ketika saya menyimak Video clip GAS! di YouTube, Kerap kali air mata ini menetes kala membaca suara hati teman - teman di kolom komentar. Banyak dari mereka berbagi perjalanan hidupnya. Ada yang hampir di D.O, Gagal meraih cita - cita, salah jurusan, dan lainnya. Lagu ini menyalakan api semangat mereka yang telah padam. Sampai sekarang GAS! menjadi soundtrack andalan saya untuk menjalani hidup penuh komedi ini, bagaimanapun juga kita harus tetap melangkah.





Merefleksikan lirik dalam lagu GAS!





Bait 1

Mengingat bagaimana ini bermula
sudah sejauh ini jalannya

 Membawa kita kembali pada titik awal di mana semua ini bermula hingga kita sampai pada titik sekarang. mengingatkan kita pada motivasi dan usaha apa saja yang telah kita lakukan sampai sejauh ini.

Sudah berangkat semenjak pagi merah tertelan bulat di cakrawala senja

Menggambarkan tentang semangat kerja keras sampai titik darah penghabisan demi terwujudnya keberhasilan 


Bergegas terburu dan tergesa menjadi hafalan di luar kepala

Repetisi yang terus berulang menjadi makanan sehari - hari


Rapal lirih larik doa hirup dan hembuskan cita -cita

Manusia hidup bukan dari roti saja melainkan dari rangkaian cita - cita dan doa


Bait 2


Sementara dalam rasa tak ada yang salah dan baik - baik saja

Sebenarnya dalam paham bukanlah ini rencananya

Menceritakan tentang rencana dan pengharapan kita lalu melihat apa yang terjadi sekarang jauh dari itu semua.


Berjalan tak seperti rencana adalah jalan yang sudah biasa dan jalan satu - satunya jalani sebaik kau bisa

Penggalangan lirik ini menjadi motto hidup saya mungkin juga bagi beberapa orang. Aku, kamu, mereka pasti pernah putus asa, gagal dan kecewa. Mari bersama kita jalani sebaik yang kita bisa.

GAS!





















No comments:

Post a Comment

AKU DI MATRAMAN, KAU DI KOTA KEMBANG.

M atraman, Minggu pagi, 26 Juli 2026. Jalanan Tambak mendadak berubah  menjadi arena kekerasan. Dalam hitungan menit, kerumunan berkumpul, p...