Tuesday, 15 October 2024

Isu Sosial Roman Kota Pelajar

Di bawah matahari yang membakar hati nampak tertunduk resah seorang pengangguran. Seorang pemuda pinggiran kota terus bergulat menjalani realita hidup yang penuh pasang surut. Keterbatasan ekonomi membuatnya urung melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Tukang galon, Tukang ojek, Karyawan burjonan. Semua pernah dilakukan demi bisa menyambung hidup walau tak sebanding dengan apa yang ia dapatkan. Tak tahan menghadapi kondisi yang terus seperti ini dengan beragam masalah dan tekanan dari luar membuatnya turun ke jalanan. Di sana ia bertemu Hooliganisme, Kriminalisme, Gangster, Alkohol, hingga Obat Pelerai Kecemasan. Itu semua menjadi aktualisasi diri sekaligus pelarian emosi negatif andalannya.

Narasi di atas adalah kata pengantar sekaligus contoh nyata dari banyaknya peristiwa yang terjadi di masyarakat, khususnya kota ini. Sisi lain yang tak tertangkap kamera wisatawan pemburu foto estetis Malioboro. Image yang disematkan kepada Jogja sebetulnya tak selalu sama dengan apa yang diperbincangkan para pendatang. Kami sebagai pribumi asli yang lahir dan tumbuh di sini sudah merasakan asam manisnya sendiri. Kota yang katanya terpelajar, berhati nyaman, SDM tertinggi di Indonesia. Namun, apakah benar demikian?

Yogyakarta dijuluki sebagai kota pelajar, tetapi pada realitanya masih banyak permasalahan dalam dunia pendidikan, seperti tingginya angka putus sekolah, kasus pungutan liar, penyalahgunaan dana Bantuan Operasional Sekolah, dan korupsi di bidang pendidikan. Sebutan “Oknum” hanyalah omong kosong, orang-orang seperti itu selalu ada di setiap instansi pendidikan. Mereka tak sendirian dalam melakukan aksinya, bahkan kerap dijumpai kepala sekolah bersekongkol dengan bawahannya, semua itu menurun dari atas ke bawah lalu menguat sampai akarnya.



Gejala sosial lainnya juga dapat ditemui pada kehidupan pelajarnya. Darah muda yang menggebu-gebu seakan menjadi doping untuk mengeksplorasi banyak hal di luar sana. Banyak dari mereka mampu mengendalikan diri kemudian mengarahkannya pada jalan yang benar. Di sisi lain, meskipun ada upaya positif, banyak anak muda yang masih salah membawa diri kemudian terjebak dalam siklus negatif.Banyak yang terjebak dalam rutinitas monoton yang tidak membawa kemajuan. Kehidupan di pinggiran sering kali menuntut mereka untuk beradaptasi dengan situasi yang tidak ideal, tekanan dari lingkungan sekitar entah dari keluarga, teman, atau media sosial sering kali membuat mereka merasa tidak cukup baik. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain menambah beban mental, yang pada gilirannya memicu stres dan kecemasan.

Hal ini membuat mereka merasa putus asa, dan beberapa dari mereka mulai mencari jalan pintas melalui tindakan kriminal atau bergabung dengan kelompok-kelompok yang menawarkan rasa kebersamaan, meskipun itu berisiko. Banyak yang mencari pelarian dengan alkohol atau obat-obatan pereda kecemasan, berpikir itu bisa membantu mereka melupakan masalah sejenak. Situasi ini menciptakan spiral negatif yang mengganggu perkembangan mereka, menjauhkan dari cita-cita yang seharusnya bisa dicapai.



Miris memang melihat keadaan kota ini, sebenarnya masih banyak lagi penyakit yang bersarang dan tak kunjung disembuhkan oleh pemerintah. Upah minimum rendah, harga tanah melangit, kejahatan jalanan sulitnya mencari lapangan pekerjaan, dan sampah yang merusak wajah cantik kota. Sebagai masyarakat tentu kita hidup berdampingan dengan itu semua. Yogyakarta memang memiliki segudang potensi pun juga dengan segudang permasalahannya.

No comments:

Post a Comment

AKU DI MATRAMAN, KAU DI KOTA KEMBANG.

M atraman, Minggu pagi, 26 Juli 2026. Jalanan Tambak mendadak berubah  menjadi arena kekerasan. Dalam hitungan menit, kerumunan berkumpul, p...