 |
| Source: American Football (LP4) Cover Album |
Jumat Pon, 1 Mei 2026, Illinois Amerika Serikat. Hari Buruh kembali dirayakan dengan berbagai demonstrasi dan festival. Di hari yang sama, para pendengar Midwest Emo juga punya alasan lain untuk merayakan hari itu. Setelah 7 tahun lamanya penantian, band kesayangan kita semua, American Football akhirnya merilis album keempat mereka yaitu American Football (LP4) melalui Polyvinyl Record.
LP4 sejatinya lahir dari sebuah jeda yang jauh lebih panjang dari rencana semula. Seusai menyelesaikan tur LP3 pada 2019, American Football berniat beristirahat sejenak. Pandemi kemudian mengubah jeda itu menjadi masa vakum hampir tiga tahun. Di tengah situasi tersebut, Steve Lamos (drum) memutuskan mundur sementara karena alasan pribadi dan profesional, kemudian upaya menulis lagu secara jarak jauh tidak berjalan mulus. “Hal itu tidak mudah dilakukan lewat Zoom, dan sejujurnya chemistrynya tidak terbangun,” kenang Steve Holmes (guitar).
 |
Source: DIY Magazine
|
Sebagian ide yang sempat mereka kembangkan akhirnya dialihkan Mike Kinsella (vocal) dan Nate Kinsella (instrumental) ke proyek sampingan mereka. Tanpa disadari, proses itu justru mempertajam arah musikal keduanya sekaligus mempertemukan mereka dengan Sonny DiPerri (producer), yang kemudian dipercaya menangani proses mixing LP4. Ketika Steve Lamos kembali dan ketiganya mulai menulis bersama di ruangan yang sama, dinamika band terasa hidup lagi. “Rasanya jauh lebih seperti sebuah band. Ada sesuatu yang organik dalam album ini yang mengingatkan saya pada nuansa album pertama,” ujar Lamos.
 |
| Source: Instagram post @americfootball |
Mike dan Nate Kinsella kemudian mengusulkan agar proses rekaman LP4 dilakukan di Stinson Beach, California, bersama Sonny DiPerri produser yang pernah bekerja dengan My Bloody Valentine dan Trent Reznor. Kehadiran DiPerri terbukti menjadi salah satu faktor penting selama proses tersebut. “Sonny memberikan pengaruh yang sangat menenangkan,” ujar Steve Holmes. Senada dengan itu, Steve Lamos mengatakan, “Berkat energi dan cara kerjanya, saya merasa lebih leluasa melakukan apa yang menurut saya perlu dilakukan. Secara pribadi, permainan drum di album ini mungkin adalah representasi terbaik dari apa yang ingin saya sampaikan sebagai seorang drummer.”
 |
| Stinson Beach California, Source: Instagram post @americfootball |
Kita sepakat American Football kini telah menua. Sejak album debut mereka pada 1999, Band ini lekat dengan potret kegelisahan anak muda seperti kisah asmara yang kandas, nostalgia, dan kebingungan menghadapi masa depan. Namun LP4 bergerak ke arah yang sama sekali berbeda. Album ini tidak lagi berbicara tentang patah hati remaja, melainkan tentang fase menjadi dewasa. karir, keluarga, penyesalan, belajar ikhlas, dan upaya bertahan ketika hidup tak lagi menyisakan romantisme yang dulu mereka nyanyikan. Jika LP1 adalah soundtrack bagi mereka yang takut menjadi dewasa, maka LP4 terasa seperti catatan dari mereka yang telah dewasa dan menyadari bahwa bertambahnya usia tidak serta-merta membuat hidup menjadi lebih mudah. Tak heran bila banyak kritikus memandang LP4 sebagai album tentang krisis paruh baya, bukan lagi sekadar album Midwest Emo yang berkutat pada patah hati anak muda.
Sampul LP4 juga menjadi penanda bahwa American Football sedang memasuki babak baru. Jika tiga album sebelumnya identik dengan rumah di Urbana simbol masa muda, nostalgia, dan ruang yang terasa dekat kali ini rumah itu menghilang. Sebagai gantinya, hanya ada pohon yang meranggas di bawah langit merah menyala. Musim gugur memang identik dengan siklus alam, ketika sesuatu harus luruh agar kehidupan baru bisa tumbuh. Namun warna langit yang nyaris apokaliptik membuat proses alami itu terasa lebih muram. Seolah-olah American Football ingin memberi isyarat sejak awal bahwa LP4 bukan lagi kisah tentang kerinduan masa muda, melainkan tentang menerima perubahan yang tak lagi bisa dihindari.
Source: instagram post @screamsinmerzbow |
Terdapat 10 pilihan lagu yang bisa kita nikmati dalam LP4. Menariknya, American Football turut serta menggandeng musisi sekelas Brendan Yates dan Wisp dalam dinamika project ini. Ada nuansa baru yang coba ingin dibangun ketika mempertemukan dua musisi dengan karakter bermusik yang bertolak belakang. Brendan Yates bersama Turnstile dengan hardcore punk nya, sedangkan Wisp yang terdengar lebih dingin dan karakter shoegaze yang pekat. Keduanya sama-sama musisi berpengaruh dalam skenanya masing-masing, namun di LP4 ini American Football sukses menempatkan mereka dalam satu album untuk mengisi backing vokal.
Dibuka dengan Man Overboard kita disuguhkan ketukan drum Steve Lamos yang kompleks mendominasi dari awal hingga akhir lagu. Kemudian kita dibawa mengawang sambil menyadari hidup kian menua di lagu No Feeling (feat. Brendan Yates):
Verse 1: Mike Kinsella
There’s nothing new to say or do
There’s nothing new to crave
Tell the doctors I’m done the kids, Adieu and Mother, Désolé
Bait pembuka Ini menggambarkan tentang seseorang yang telah mencapai titik kelelahan emosional yang mendalam. “There’s nothing new to say or do” dan “There’s nothing new to crave” menggambarkan perasaan hampa, seolah tidak ada lagi hal yang bisa memberi harapan atau makna.
“Tell the doctors I’m done” ini bisa diartikan sebagi penolakan terhadap upaya penyembuhan, sementara ucapan “Adieu” bahasa Prancis untuk (selamat tinggal) dan “Désole” (maaf) kepada anak, ibu memperkuat kesan seseorang yang sedang mengucapkan salam perpisahan.
Pre Chorus: Mike Kinsella
One last goodbye and one last kiss One last dance with the Goddess Nyx
Menggambarkan perpisahan yang ikhlas. Nyx adalah Dewi malam dari mitologi Yunani, “One last dance with the Goddess Nyx” menari bersama Dewi Nyx dimaknai sebagai metafora memasuki gelap atau menghadapi kematian.
Chorus: Brendan Yates, Mike Kinsella
(No feeling) No pain
(No feeling) No one to blame
(No feeling) Forever awaits
(No feeling) It’s just an eternal
(No feeling) Blank page
Bagian ini menegaskan bahwa semua yang telah terjadi sejatinya akan pasti dan tak perlu menyalahkan keadaan.
Verse 2: Mike Kinsella
Some bones stand on their own
Some bones are carried
Mine are either, neither, or both
They just ache to be buried
Tulang dimaknai sebagai jasad manusia. Beberapa ada yang dilupakan dan sebagian masih dikenang. “Mine are either, neither, or both” Mike Kinsella menganggap dirinya bukan yang pertama atau kedua, bahkan tidak keduanya sekaligus. Ada krisis identitas dan perasaan terombang-ambing. “They just ache to be buried” tulang tulang itu telah lama menyimpan rasa sakit dan sudah saatnya diistirahatkan.
Verse 3: Mike Kinsella
Help me dig a hole
I’m already cold
I honestly never planned on getting old
Ini mungkin part paling gamblang dalam lagu ini. Kalimatnya sederhana namun jujur. Tentu hal yang paling kita takutkan semasa hidup adalah menjadi tua, dan kehilangan satu persatu memori.
Bridge: Mike Kinsella
I know you're waiting for some sign of life but the pain is too much to endure
Goodnight
Kita, manusia, akan mencari apa arti keberadaan kita di dunia ini. Masing-masing memiliki waktu dan bebannya sendiri. Tidak selamanya kita menemukan jawabannya, hanya satu yang telah diyakini, bahwa kepergian itu pasti.
 |
| Source: Bandcamp |