Monday, 3 August 2026

AKU DI MATRAMAN, KAU DI KOTA KEMBANG.

Matraman, Minggu pagi, 26 Juli 2026. Jalanan Tambak mendadak berubah menjadi arena kekerasan. Dalam hitungan menit, kerumunan berkumpul, pukulan dan lemparan saling berbalas, sementara rasa kemanusiaan seolah kalah oleh amarah kolektif. Di saat-saat seperti itu, nyawa manusia tak ada harganya ketika identitas kelompok lebih diutamakan daripada kehidupan itu sendiri.

Peristiwa kemarin bukanlah yang pertama. Ia hanya menambah daftar panjang konflik horizontal yang berulang di kawasan ini. Setiap kali nama Matraman kembali menghiasi laman pemberitaan, yang muncul bukanlah sekadar masalah geografis di peta Jakarta, melainkan ingatan tentang kekerasan, konflik, dan ketegangan yang seolah belum benar-benar usai.


Source: Single Cover, Matraman The Upstairs

Namun di lain cerita, nama Matraman dapat kita jumpai bukan karena sebuah tawuran pelajar, ia pernah diabadikan dalam sebuah lagu tentang cinta. Mari kita kenalan singkat dengan The Upstairs, sebuah band beraliran new wave yang lahir pada 5 Oktober 2001 di Jakarta, buah pemikiran dari Jimi Multazam(Vocal) dan Kubil Idris(Guitar). Band yang semua anggotanya berasal dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) itu dikenal sebagai rajanya pensi pada jamannya. Salah satu karya The Upstairs pernah memotret wajah Ibu Kota, khususnya kawasan Matraman dengan segala hiruk-pikuk dan denyut kehidupannya lewat lagu berjudul “Matraman”. Menariknya lagu itu tidak berbicara tentang konflik sebagai poin utamanya, melainkan berbicara tentang adanya kisah asmara yang pernah mampir di sana.

MATRAMAN

Demi trotoar dan debu yang berterbangan
Ku bersumpah
Demi celurit mistar dan batu terbang pelajar
Ku ungkapkan

Atas nama orang-orang
Berdatangan ke utara
Kau kan ku jelang

Kan ku persembahkan
Sekuntum mawar
Aku di Matraman
Kau di Kota Kembang

Demi jembatan layang meluncur dari Pramuka
Ku sandarkan
Demi polisi dan kantornya yang di seberang
Pengetikan

Orang-orang mulai lengang
Perempuan malam berdatangan
Dan ku bertahan

Kan ku persembahkan
Sekuntum mawar
Aku di Matraman
Kau di Kota Kembang

Penulis Lagu: Jimi Multhazam

Source: Instagram post @jimi_multhazam

Menurut pengakuan Jimi, saat diinterview oleh Kompas. Dirinya bercerita tentang kisah di balik terciptanya lagu Matraman. Kala itu dirinya sedang duduk-duduk di pelataran bersama kawan-kawannya, lalu kemudian datang seorang sohib bernama Cocot dengan muka murung, ternyata si Cocot ini habis putus dengan pacarnya yang cantik, dan ingin balikan. Nama mantannya ini adalah Dewi, yang kebetulan satu kampus bersama Cocot di IKJ dan rumah Dewi ada di Priok. Jimi yang mendengar itu langsung punya ide untuk menyuruh Cocot membawakan sekuntum mawar, lalu menunggu di Matraman tempat Dewi akan turun. Singkat cerita ketika Jimi dan kawan-kawannya sedang asik nongkrong di Taman Ismail Marzuki, Cocot kembali datang dengan mukanya yang masih murung. Ia sudah melakukan apa yang Jimi sarankan, dirinya sudah menunggu lama sampai malam pun tiba, namun gadis yang dinanti tak kunjung datang, rupanya Dewi sedang berada di Kota Kembang atau Bandung. Mendengar nasib Cocot yang melas itu Jimi dan kawan-kawan spontan tertawa lepas atas kegoblokan sohibnya satu itu. “Saat semua tertawa-tawa, Gue langsung menyanyikan reffren nya, Aku di Matraman… Kau di Kota Kembang…” Jimi Multhazam.

Jadi begitulah kira-kira cerita di balik lagu Matraman yang fenomenal. Gaya penulisan Jimi Multhazam memang tak diragukan lagi, selalu brilian, selalu terngiang, dan membekas. Beliau adalah salah satu panutan saya dalam menulis. Perlu diketahui juga, Jimi pencipta sekaligus penulis 2 lagu yang masuk daftar lagu terbaik versi Rolling Stones Indonesia yaitu: Konservatif dan Matraman. Lewat lagu Matraman-The Upstairs, kita diingatkan bahwa sebuah kota selalu menyimpan lebih banyak cerita daripada yang tampak di permukaan.




Sunday, 19 July 2026

American Football (LP4): Pendewasaan dan Krisis Paruh Baya

 

Source: American Football (LP4) Cover Album

Jumat Pon, 1 Mei 2026, Illinois Amerika Serikat. Hari Buruh kembali dirayakan dengan berbagai demonstrasi dan festival. Di hari yang sama, para pendengar Midwest Emo juga punya alasan lain untuk merayakan hari itu. Setelah 7 tahun lamanya penantian, band kesayangan kita semua, American Football akhirnya merilis album keempat mereka yaitu American Football (LP4) melalui Polyvinyl Record.

LP4 sejatinya lahir dari sebuah jeda yang jauh lebih panjang dari rencana semula. Seusai menyelesaikan tur LP3 pada 2019, American Football berniat beristirahat sejenak. Pandemi kemudian mengubah jeda itu menjadi masa vakum hampir tiga tahun. Di tengah situasi tersebut, Steve Lamos (drum) memutuskan mundur sementara karena alasan pribadi dan profesional, kemudian upaya menulis lagu secara jarak jauh tidak berjalan mulus. “Hal itu tidak mudah dilakukan lewat Zoom, dan sejujurnya chemistrynya tidak terbangun, kenang Steve Holmes (guitar).

Source: DIY Magazine

Sebagian ide yang sempat mereka kembangkan akhirnya dialihkan Mike Kinsella (vocal) dan Nate Kinsella (instrumental) ke proyek sampingan mereka. Tanpa disadari, proses itu justru mempertajam arah musikal keduanya sekaligus mempertemukan mereka dengan Sonny DiPerri (producer), yang kemudian dipercaya menangani proses mixing LP4. Ketika Steve Lamos kembali dan ketiganya mulai menulis bersama di ruangan yang sama, dinamika band terasa hidup lagi. “Rasanya jauh lebih seperti sebuah band. Ada sesuatu yang organik dalam album ini yang mengingatkan saya pada nuansa album pertama,” ujar Lamos.

Source: Instagram post @americfootball

Mike dan Nate Kinsella kemudian mengusulkan agar proses rekaman LP4 dilakukan di Stinson Beach, California, bersama Sonny DiPerri produser yang pernah bekerja dengan My Bloody Valentine dan Trent Reznor. Kehadiran DiPerri terbukti menjadi salah satu faktor penting selama proses tersebut. “Sonny memberikan pengaruh yang sangat menenangkan,” ujar Steve Holmes. Senada dengan itu, Steve Lamos mengatakan, “Berkat energi dan cara kerjanya, saya merasa lebih leluasa melakukan apa yang menurut saya perlu dilakukan. Secara pribadi, permainan drum di album ini mungkin adalah representasi terbaik dari apa yang ingin saya sampaikan sebagai seorang drummer.

Stinson Beach California, Source: Instagram post @americfootball

Kita sepakat American Football kini telah menua. Sejak album debut mereka pada 1999, Band ini lekat dengan potret kegelisahan anak muda seperti kisah asmara yang kandas, nostalgia, dan kebingungan menghadapi masa depan. Namun LP4 bergerak ke arah yang sama sekali berbeda. Album ini tidak lagi berbicara tentang patah hati remaja, melainkan tentang fase menjadi dewasa. karir, keluarga, penyesalan, belajar ikhlas, dan upaya bertahan ketika hidup tak lagi menyisakan romantisme yang dulu mereka nyanyikan. Jika LP1 adalah soundtrack bagi mereka yang takut menjadi dewasa, maka LP4 terasa seperti catatan dari mereka yang telah dewasa dan menyadari bahwa bertambahnya usia tidak serta-merta membuat hidup menjadi lebih mudah. Tak heran bila banyak kritikus memandang LP4 sebagai album tentang krisis paruh baya, bukan lagi sekadar album Midwest Emo yang berkutat pada patah hati anak muda.

Sampul LP4 juga menjadi penanda bahwa American Football sedang memasuki babak baru. Jika tiga album sebelumnya identik dengan rumah di Urbana simbol masa muda, nostalgia, dan ruang yang terasa dekat kali ini rumah itu menghilang. Sebagai gantinya, hanya ada pohon yang meranggas di bawah langit merah menyala. Musim gugur memang identik dengan siklus alam, ketika sesuatu harus luruh agar kehidupan baru bisa tumbuh. Namun warna langit yang nyaris apokaliptik membuat proses alami itu terasa lebih muram. Seolah-olah American Football ingin memberi isyarat sejak awal bahwa LP4 bukan lagi kisah tentang kerinduan masa muda, melainkan tentang menerima perubahan yang tak lagi bisa dihindari.

Source: instagram post @screamsinmerzbow

Terdapat 10 pilihan lagu yang bisa kita nikmati dalam LP4. Menariknya, American Football turut serta menggandeng musisi sekelas Brendan Yates dan Wisp dalam dinamika project ini. Ada nuansa baru yang coba ingin dibangun ketika mempertemukan dua musisi dengan karakter bermusik yang bertolak belakang. Brendan Yates bersama Turnstile dengan hardcore punk nya, sedangkan Wisp yang terdengar lebih dingin dan karakter shoegaze yang pekat. Keduanya sama-sama musisi berpengaruh dalam skenanya masing-masing, namun di LP4 ini American Football sukses menempatkan mereka dalam satu album untuk mengisi backing vokal. 

Dibuka dengan Man Overboard kita disuguhkan ketukan drum Steve Lamos yang kompleks mendominasi dari awal hingga akhir lagu. Kemudian kita dibawa mengawang sambil menyadari hidup kian menua di lagu No Feeling (feat. Brendan Yates):

Verse 1: Mike Kinsella

There’s nothing new to say or do
There’s nothing new to crave
Tell the doctors I’m done the kids, Adieu and Mother, Désolé

Bait pembuka Ini menggambarkan tentang seseorang yang telah mencapai titik kelelahan emosional yang mendalam. “There’s nothing new to say or do” dan “There’s nothing new to crave” menggambarkan perasaan hampa, seolah tidak ada lagi hal yang bisa memberi harapan atau makna.

Tell the doctors I’m done” ini bisa diartikan sebagi penolakan terhadap upaya penyembuhan, sementara ucapan “Adieu” bahasa Prancis untuk (selamat tinggal) dan “Désole” (maaf) kepada anak, ibu memperkuat kesan seseorang yang sedang mengucapkan salam perpisahan.

Pre Chorus: Mike Kinsella

One last goodbye and one last kiss One last dance with the Goddess Nyx

Menggambarkan perpisahan yang ikhlas. Nyx adalah Dewi malam dari mitologi Yunani, “One last dance with the Goddess Nyx” menari bersama Dewi Nyx dimaknai sebagai metafora memasuki gelap atau menghadapi kematian.

Chorus: Brendan Yates, Mike Kinsella

(No feeling) No pain 
(No feeling) No one to blame
 (No feeling) Forever awaits 
(No feeling) It’s just an eternal
 (No feeling) Blank page

Bagian ini menegaskan bahwa semua yang telah terjadi sejatinya akan pasti dan tak perlu menyalahkan keadaan. 

Verse 2: Mike Kinsella

Some bones stand on their own
Some bones are carried
Mine are either, neither, or both
They just ache to be buried

Tulang dimaknai sebagai jasad manusia. Beberapa ada yang dilupakan dan sebagian masih dikenang. “Mine are either, neither, or both” Mike Kinsella menganggap dirinya bukan yang pertama atau kedua, bahkan tidak keduanya sekaligus. Ada krisis identitas dan perasaan terombang-ambing. “They just ache to be buried” tulang tulang itu telah lama menyimpan rasa sakit dan sudah saatnya diistirahatkan.

Verse 3: Mike Kinsella

Help me dig a hole
I’m already cold
I honestly never planned on getting old

Ini mungkin part paling gamblang dalam lagu ini. Kalimatnya sederhana namun jujur. Tentu hal yang paling kita takutkan semasa hidup adalah menjadi tua, dan kehilangan satu persatu memori.

Bridge: Mike Kinsella 

I know you're waiting for some sign of life but the pain is too much to endure
Goodnight

Kita, manusia, akan mencari apa arti keberadaan kita di dunia ini. Masing-masing memiliki waktu dan bebannya sendiri. Tidak selamanya kita menemukan jawabannya, hanya satu yang telah diyakini, bahwa kepergian itu pasti. 

Source: Bandcamp


Friday, 16 January 2026

Amplop Coklat Surat Lamaran

    Jalanan kusam berlubang Joni menahan lapar sembari terlamun di bahu jalan. Musim hujan datang terkunci namun ia sudah kuyup sejak tadi pagi. Matanya sayu menatap aspal dalam-dalam mencari adakah potensi dalam dirinya. Sudah genap 28 tahun hidupnya, dan sampai saat ini belum ada pencapaian yang bisa ia banggakan selain piagam juara harapan sabung ayam desa setempat. Angin sore berhembus membawa bau aspal basah dan sisa daun yang teraduk genangan. Joni menarik napas panjang, bukan untuk menguatkan diri, hanya sekadar memastikan paru-parunya masih bekerja. Perutnya kembali bergejolak, menuntut lapar yang tak kunjung kenyang.

     Dari seberang jalan sebuah warung tenda biru mulai menyalakan lampu. Cahaya kuningnya memantul di lubang-lubang jalan menciptakan ilusi yang nampak seperti ejekan. Joni merogoh saku celananya, menemukan uang kembalian yang kusut dan lembab, jumlahnya tak cukup bahkan untuk sebungkus nasi kucing. Mencoba menerima keadaan, Ia hanya bisa menelan ludah. Ingatan Joni melompat ke rumah sederhana di kampungnya, ke Ibu yang selalu berkata bahwa hidup tak harus menang besar, asal jangan kalah oleh diri sendiri. Kalimat itu kini terdengar seperti nasihat yang sengaja datang.

    Joni berdiri, membersihkan celananya dengan gerakan asal. Langkahnya gontai seolah lubang jalan menahan kakinya. Di sudut gang ia menemukan poster lusuh bertuliskan lowongan pekerjaan yang sebagian hurufnya sudah terkelupas. Ia berhenti sejenak, membaca dengan mata penasaran, tak ada janji besar di sana, hanya upah harian dan jam kerja yang panjang. Hujan kembali turun lebih deras dari sebelumnya. Joni tersenyum tipis, senyum yang nyaris tak layak disebut senyum. Ia melipat poster itu dengan hati hati, menyelipkannya ke saku, lalu melangkah menembus hujan di sepanjang jalan R.W Monginsidi. Jalanan tetap kusam dan berlubang, hidupnya pun masih begitu, namun untuk pertama kalinya hari itu Joni tak hanya duduk diam di bahu jalan.


Saturday, 6 September 2025

OWL AND WOLF: PSIKEDELIA DALAM ROMANTISME SUNYI

 

 We don’t need to speak our names
And our things that float in between



Babak I: Di Antara Distorsi dan Dingin Malam

Ketika Owl and Wolf mulai bermain dengan gitar berdengung, dan vokal Rekti Yoewono terdengar seperti panggilan dari hutan pinus di serial Twilight aku tahu, ini bukan lagu biasa. Ini bukan sekadar musik, ini cerita tentang rahasia malam.

Psychedelic rock adalah subgenre yang lahir di era 60 an, terutama untuk menciptakan sensasi seperti “perjalanan batin” atau realitas alternatif. Beberapa band bernuansa psychedelic antara lain seperti Led Zeppelin, Pink Floyd, The Who, bahkan The Beatles. Musik ini biasanya mengandalkan repetisi, distorsi, efek echo, lirik surealis, halusinasi, dan Owl and Wolf punya itu semua, meski lahir di dekade yang berbeda.

Di antara banyak lagu The SIGIT, Owl and Wolf hadir dengan atmosfer yang benar-benar berbeda. Lagu ini membawa rasa kerinduan, kesepian, tapi juga kekuatan. Ada semacam energi pasrah yang tidak menyerah. Seperti berdiri di tengah badai dan berkata: “Aku tetap di sini.” Liriknya dingin cenderung simbolik dan interpretatif seperti ingin menyampaikan pesan tersembunyi.

Babak II: Cinta yang Tak Bernama - Owl and Wolf

Twilight Saga

Tahukah kalian, Serigala dan Burung hantu adalah aktor utama di balik dinginnya malam. Mereka serupa namun tak sama. Burung hantu sosok yang pendiam dan penyendiri namun ia jujur apa adanya, matanya selalu terjaga melihat apapun di jahatnya malam. Sedangkan Serigala eksis dengan lolongan malamnya yang identik pada nuansa mistis penuh kegelapan.

Burung hantu terbang menembus kabut, ia adalah pemilik langit di malam hari. Sementara itu Serigala terus berburu dan berlarian tanpa kenal lelah. Mereka berdua memiliki ikatan tersendiri, hidup di bawah sinar bulan yang sama jauh dari kata kehangatan.

Mereka tak pernah saling menyapa. Tapi mereka hidup berdampingan meski berbeda, meski tak bisa bersama. Kisah Burung hantu dan Serigala menyadarkan kita bahwa untuk mencintai kita tidak perlu menyebut nama kita, asal kita, bahkan siapa kita karena cinta tidak memandang itu semua. Burung hantu di atas Serigala di bawah, mereka sadar akan hal itu hebatnya mereka tetap saling menjaga dan pergi menuju tujuannya masing-masing.

Pesan yang ingin disampaikan pada lagu ini adalah sebuah kisah tentang True Love. Ketika kita mencintai seseorang tak selamanya kita harus bergandengan dengannya. Ada cara lain untuk mencintai, bisakah kita seperti Owl and Wolf, menerima keadaan dan memilih untuk saling mendoakan dari jauh tanpa kepentingan satu sama lain. Karena tidak semua cinta harus bersuara. Ada cinta yang hanya dilihat oleh bulan dan dijaga oleh keheningan.

Babak III: Lagu yang Tak Pernah Usai

Cover Album Detourn

Setelah lagu berhenti, gema “Owl and Wolf” masih menetap dalam dada. Ada ruang kosong yang tak ingin diisi, seperti kenangan yang tak ingin dilupakan. Lagu ini bukan sekadar tentang dua makhluk malam. Ia adalah tentang kita tentang aku dan kamu, tentang siapa saja yang pernah mencintai dalam diam, yang pernah menatap dari kejauhan tanpa harapan untuk mendekat.

Di dalam distorsi gitar dan lirik simbolik, terselip kejujuran yang jarang berani diucapkan: bahwa kadang, yang terbaik bukan bersama, tapi merelakan. Bahwa mencintai bisa cukup dengan menjaga dari jauh, tanpa ingin memiliki, tanpa perlu menyentuh. Seperti Burung Hantu yang tetap berjaga, dan Serigala yang tetap berlari, mereka ada, mereka sadar, tapi tak saling meminta.Kita sedang hidup di bawah bulan yang sama, menatap langit yang sama, tapi berjalan ke arah yang berbeda.

Akhirnya, Owl and Wolf bukan hanya lagu. Ia adalah pengingat bahwa cinta bisa hadir dalam kesunyian, dan tak semua kisah perlu akhir bahagia untuk menjadi abadi. Sekali lagi, apakah kita bisa seperti Burung hantu dan Serigala?


 

Sunday, 6 July 2025

Ciu Cinta dan Angkringan Pakdhe Sorjo

Di sebuah desa kecil bernama dusun Gampunk, malam-malam selalu hidup di bawah pohon beringin angkringan Pakdhe Sorjo. Asap wedang jahe bercampur aroma gorengan panas, dan suara tokek bertarung dengan tawa warga yang duduk lesehan.

Dari kejauhan nampak langkah kaki Joni menembus dinginnya malam. Ia datang dengan gaya khasnya: sandal jepit selen, kaos oblong bertuliskan "Dekengane Wong Pusat", dan rambut acak-acakan yang lebih mirip sangkar burung.

"Pakdhe... segelas teh manis panas. Tapi manisnya jangan kayak gadis yang duduk di seberang sana." ucap Joni sambil menghisap sebatang Aspro.

Pakdhe Sorjo tertawa sambil menuang teh dari tremos yang sudah lelah. "Joni, kamu ini... masih aja pikirannya soal wanita. Sini tak tambahi tempe mendoan biar hatimu rada kriuk-kriuk."

Sambil menyeruput teh, Joni berbisik pelan "Pakdhe, aku dengar kabar dari mas-mas karang taruna katanya ada ciu baru racikan Mbah Kricak. Katanya sih bisa bikin pria jadi berani PDKT sama lawan jenis."

Pakdhe Sorjo berhenti mengaduk wedang uwuh. Matanya menyipit curiga. "Ciu racikan Mbah Kricak? Waduh, itu bukan sembarang ciu. Kamu tau sendiri kan Pak RT itu meskipun sudah menginjak kepala 4 tapi baru 3 hari yang lalu dia memberanikan diri menikah, setelah sekian lama melakukan sendiri dengan tangan. Ada desas-desus beberapa minggu sebelum pernikahan, Pak RT kerap kepergok warga mondar-mandir ke rumah Mbah Kricak dan tak jauh dari halaman rumah Pak RT ditemukan beberapa botol ciu dengan cap hati yang terpanah."

Joni terkekeh. "Wah, berarti manjur Pakdhe! bisa buat dapetin jodoh."

"Hidupmu itu bukan butuh jodoh Jon, butuh kerjaan tetap!"

Sambil tertawa-tawa, datanglah Gendut sahabat Joni yang selalu jadi korban eksperimen kuliner desa. "Eh Jon, coba lihat ini aku dapet botol kecil ciu racikan Mbah Kricak. Tapi kayaknya ini versi terbaru, ada label Ciu Cinta..."

Joni mendelik. "Ciu Cinta? Jangan-jangan ini yang bikin Pak RT dapet jodoh perawan muda."

Pakdhe Sorjo menepuk jidat. "Astaga desa ini makin absrud!"

Tanpa pikir panjang, Joni menuang ciu cinta itu ke bekas gelas teh poci. Dia menatap Gendut "Demi cinta Ndut. Kalau besok aku nekad ngelamar Mbak Rani panjual warung madura, tolong ingatkan aku bahwa ini semua salah cium."

Seteguk demi seteguk, Joni mulai mengeluarkan unek-unek "Pakdhe... sebetulnya aku cinta sama Mbak Rani... tapi aku malu Pakdhe... aku sering ngutang di warungnya, meskipun begitu Mbak Rani tetap melayaniku dengan senyum manisnya."

Semua yang duduk di angkringan mulai tertawa terpingkal-pingkal. Bahkan Pak Babin yang kebetulan sedang patroli naik pit ontel sampai berhenti. "Lha ini kenapa Joni pidato kayak caleg kalah?"

Joni bangkit berdiri di atas lincak. "Saudara-saudaraku sekalian! Jika cinta harus diperjuangkan, maka perjuanganku adalah menghadap Mbak Rani dan berkata... Bolehkah saya mencintaimu selama 24 jam seperti dirimu yang senantiasa menjaga warung?"

Gendut hampir tersedak gorengan, Pakdhe geleng-geleng kepala. Malam itu berakhir dengan Joni tertidur di angkringan sambil memeluk botol Ciu Cinta yang isinya tinggal setetes. Pakdhe Sorjo hanya bisa berkomentar, "Cinta memang butuh keberanian, tapi jangan minum ciu dulu baru berani. Joni sedikit tau tentang cinta, selebihnya, dia sok tau."

Dan sejak saat itu, Ciu Cinta dilarang beredar di kampung Gampunk demi kesehatan mental warganya. Tak berselang lama, Mbah Kricak ditemukan tutup usia diduga serangan jantung setelah mencoba racikan barunya yang bernama Ciu Wareng.

 

Tuesday, 27 May 2025

Ruang Tamu, Ruang Makan, Dapur

 Ruang Tamu

Di jantung rumah yang diam membatu

Kursi lapuk merunduk dalam doa ratu surga

Meja menjelma altar tanpa sesaji

Dan jam dinding menguap pukul tengah hari


Gorden menggantung seperti ingatan

Terayun pelan oleh angin yang lupa pulang

Cahaya sore memudar di cangkir dan toples kosong

Seperti janjimu yang akan kembali bertamu


Ruang tamu ini bukan lagi tempat perjamuan

Melainkan reruntuhan rindu yang tak bersarang

Segalanya hadir tak berwujud

Sebuah pameran hampa tanpa mata yang saling menatap


Di sinilah kehampaan bersandar

Menghisap makna dari setiap benda

Menyisakan ruang

Yang hanya bisa diisi oleh kehilangan




Ruang Makan 

Di meja panjang yang menjelma medan perang

Sendok dan garpu berdenting seperti senjata

Mangkuk dan piring menjelma perisai ego

Lidah menjadi pedang yang melukai rasa


Santapan tak lagi berkat

Melainkan validasi yang dikunyah dengan gigi taring

Dan tawa topeng dari lapar yang tak berujung

Mereka makan bukan karena lapar

Melainkan demi mengunyah kemenangan


Sungguh ini bukan perjamuan

Melainkan pertunjukan lapar akan pengakuan

Di panggung bernama meja makan

Dengan kerakusan akan sorotan




Dapur

Dapur adalah altar api yang berserah

Tempat amarah direbus hingga menguap

Dan kebencian larut dalam kuah sop bakso masakan uti

Yang tiap suapnya selalu meneduhkan hati


Pisau tak lagi melukai

Hanya memotong nafsu membelah gelisah

Tikus yang berlarian bukanlah seorang juru masak

Minyak yang tumpah juga bukan akhiran


Aku adalah peziarah dalam diri

Mengaduk rempah dalam doa sunyi

Menyajikan damai

Dari bara api yang mati

 



Tuesday, 25 March 2025

Tugu Gamping Kembaran Tugu Jogja yang Terasingkan

Sekitar 9 dari 10 warga Jogja, diduga belum pernah merasakan sensasi swafoto berlatar Tugu Jogja atau plang Jalan Malioboro. Ada stereotip bahwa tempat-tempat tersebut hanyalah objek hiburan semata bagi para turis untuk mempercantik unggahan di instastory. Bisa dikatakan bahwa kurang lengkap rasanya berkunjung ke Jogja jika belum berpose di lokasi-lokasi tersebut. Di sisi lain, jika ada warga asli Jogja yang berfoto di plang Malioboro maupun Tugu, seringkali menimbulkan pertanyaan tentang keaslian identitasnya dengan dugaan dia mungkin hanya "Jogja KTP", namun bisa saja dirinya sedang menemani tamu atau saudara yang berkunjung. Meskipun demikian pandangan tersebut tak sepenuhnya benar. Terlepas dari fenomena lucu yang terjadi di masyarakat, setiap individu baik turis maupun warga lokal berhak mengabadikan momen berharga mereka bersama Kota ini. Berbahagialah bagi mereka yang merasa pernah melakukannya, karena mungkin saja itu menandakan sesuatu yang istimewa seperti Kotanya. Bagi saya pribadi, hal-hal semacam itu bukanlah hal yang terlalu penting. Meskipun Tugu Jogja telah menjadi simbol kebanggaan kota, ada satu hal yang menurut saya lebih menarik perhatian dan memiliki nilai sejarah yang tak kalah dalam untuk dibagikan, Tugu Gamping.

Bila kamu datang dari Ringroad Selatan langsung saja menuju Ambarketawang. Tepat di pinggiran Jalan Wates sebelum jembatan Sungai Bedog dapat dijumpai kembaran Tugu Jogja, bangunan itu bernama Tugu Gamping. Disebut demikian karena wujud fisik dari Tugu Gamping bisa dibilang menyerupai Tugu Jogja. Mulai dari bagian atas yang lancip, ornamen-ornamen, hingga prasasti yang terdapat di sisi Tugu. Perbedaan paling ketara adalah nasib mereka yang berbanding terbalik. Terletak di pinggiran Kota jauh dari hingar bingar pariwisata, menjadikan keberadaannya kurang mendapat perhatianLain halnya dengan Tugu pusat Kota yang terawat dan selalu dikunjungi wisatawan, sementara itu Tugu Gamping berdiri di sudut jalan beratap papan reklame yang kini tubuhnya kian berlumut dan usang dimakan oleh waktu. Namun, di sinilah letak keunikannya. Tugu Gamping dengan keberadaannya yang lebih sederhana, menyimpan makna mendalam bagi masyarakat setempat yang menghargai perjalanan dan perjuangan sejarah Kota ini.

Dibangun pada tahun 1941, keberadaan Tugu ini bukanlah tanpa alasan. Tugu Gamping didirikan sebagai simbol peringatan kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dengan nama lain Gusti Raden Mas Dorojatun. Beliau dinobatkan menjadi Raja pada Senin Pon, 18 Maret 1940 menggantikan Ayahnya yaitu Sri Sultan Hamengku Buwono VIII yang meninggal karena sakit. GRM Dorojatun menjadi Raja dengan menyandang gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kandjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah Kaping IX. Sejarah kenaikan tahta tersebut tertulis dalam prasasti yang terdapat pada salah satu sisi Tugu Gamping. Berbunyi: “MAHARGJO; DJOEMENENGDALEM SAMPEJANDALEM HINGKANG SINOEHOEN HINGKANG - DJOEMENENG KAPING IX 18 MAART 1940”.

Kala pelantikan, beliau berpidato dengan nada progresif. Ada satu kalimat yang sampai saat ini masih dikenang oleh banyak orang, kalimat itu berbunyi: “Saya memang berpendidikan barat tapi pertama-tama saya tetap orang Jawa”. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dirinya memiliki pendirian teguh, dan menjunjung tinggi identitasnya sebagai orang Jawa. GRM Dorojatun memang dikenal sebagai pribadi yang berpendidikan. Semasa mudanya GRM Dorojatun menghabiskan waktunya di luar lingkungan Keraton. Sejak umur 4 tahun beliau dititipkan kepada Keluarga Mulder. Mulder adalah seorang Belanda sekaligus Kepala Sekolah NHJJS (Neutrale Hollands Javanesche Jongen School). Meskipun dari keluarga bangsawan, GRM Dorojatun terdidik untuk hidup layaknya rakyat biasa,hidup sederhana dan mandiri tanpa seorang pengasuh.

Rekam jejak pendidikan GRM Dorojatun cukup mengesankan. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di Yogyakarta, beliau melanjutkan ke Hogere Burgerschool di Semarang dan Bandung. Belum selesai menuntaskan jenjang pendidikan di HBS, Sri Sultan Hamengku Buwono VIII selaku ayahnya memutuskan untuk mengirimkan GRM Dorojatun ke Belanda. Selesai Gymnasium beliau melanjutkan pendidikan ke Universitas Leiden Belanda, di sana beliau mendalami ilmu hukum tata negara. Semasa di Belanda GRM Dorojatun aktif mengikuti kegiatan mahasiswa seperti klub debat, hal itu membuatnya berteman dekat dengan Putri Juliana yang kelak menjadi Ratu Belanda.

Tepat pada 17 Agustus 1945, sebuah negara baru lahir di negeri ini. Proklamasi telah dikumandangkan oleh Soekarno, Hatta, menandakan akhir dari perjuangan melawan penjajahan asing. Kala itu GRM Dorojatun yang sudah diangkat menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono IX, menyikapi hal tersebut dengan mengirimkan telegram ucapan selamat yang ditujukan pada para proklamator. 5 September 1945 maklumat dikeluarkan. Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyatakan bahwasanya Yogyakarta adalah bagian dari Indonesia. Peristiwa tersebut menjadi tanda dimulainya era baru Yogyakarta, dimana dia bukan lagi negara yang berdiri sendiri melainkan bagian dari negara Republik.

Perubahaan ini didukung sepenuhnya oleh rakyat, yang kemudian ditunjukan dengan pengabdian yang total. Sri Sultan Hamengku Buwono IX memainkan peran penting dalam pemerintahan Republik, beliau adalah tokoh di balik layar yang menyelamatkan Indonesia di waktu genting pasca proklamasi. Ketika negara yang baru lahir ini mengalami begitu banyak persoalaan, salah satunya tekanan dari Kolonial Belanda yang datang kembali. Sri Sultan Hamengku Buwono IX, mengundang para tokoh bangsa untuk melaksanakan pemerintahan dari Yogyakarta. Beliau menegaskan Yogyakarta bersedia menjadi Ibu Kota sementara Republik Indonesia yang baru berdiri kala itu. Pengabdian beliau pada Republik juga ditunjukan dalam wujud dukungan finansial. Sebagai negara baru tentu saja Indonesia belum memiliki dana yang cukup untuk menjalankan pemerintahan, oleh karenanya Sri Sultan Hamengku Buwono IX memutuskan untuk menyumbangkan harta Keraton senilai 6,5 juta gulden melalui Soekarno yang kemudian menjadi kas awal Republik Indonesia.

Kurang lebih 3 tahun Yogyakarta menjadi Ibu Kota Republik Indonesia. Selama masa pemerintahan, semua urusan pendanaan diambil dari kas keraton, meliputi gaji Presiden/Wakil, Staff, Operasional dll. Sri Sultan Hamengku Buwono IX sama sekali tidak memperhitungkan jumlah nominal yang disumbangkan, baginya hal itu adalah wujud pengabdian. Beliau juga menyampaikan kepada penerusnya supaya tidak meminta kembali harta keraton yang dulunya telah disumbangkan kepada Republik.

17 Desember 1949, ketika Soekarno-Hatta dan para staff kabinet harus kembali ke Jakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengucapkan salam perpisahan dengan berat hati. Ujarnya “Yogyakarta sudah tidak memiliki apa-apa lagi, silakan lanjutkan pemerintahan ini di Jakarta”. Perpisahaan itu sekaligus melengkapi sabdanya pada telegram yang dikirimnya kala itu “Sanggup berdiri di belakang pimpinan Paduka Yang Mulia”. Begitulah kisah sedikit dari banyaknya pengabdian Sri Sultan Hamngku Buwono IX kepada Indonesia. Hingga saat ini namanya masih melekat dan memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat Yogyakarta. Kebetulan setiap berangkat ke sekolah saya selalu menuju arah timur dan melewati Tugu Gamping, tak lupa menyempatkan pandangan ke arah Tugu yang kurang perhatian itu. Ketika menatapnya muncul rasa bangga menjadi warga asli Gamping, dan bersyukur Kota ini pernah memiliki pemimpin besar seperti Sri Sultan Hamengku Buwono IX, seorang Raja dalam Republik.

Tuesday, 15 October 2024

Isu Sosial Roman Kota Pelajar

Di bawah matahari yang membakar hati nampak tertunduk resah seorang pengangguran. Seorang pemuda pinggiran kota terus bergulat menjalani realita hidup yang penuh pasang surut. Keterbatasan ekonomi membuatnya urung melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Tukang galon, Tukang ojek, Karyawan burjonan. Semua pernah dilakukan demi bisa menyambung hidup walau tak sebanding dengan apa yang ia dapatkan. Tak tahan menghadapi kondisi yang terus seperti ini dengan beragam masalah dan tekanan dari luar membuatnya turun ke jalanan. Di sana ia bertemu Hooliganisme, Kriminalisme, Gangster, Alkohol, hingga Obat Pelerai Kecemasan. Itu semua menjadi aktualisasi diri sekaligus pelarian emosi negatif andalannya.

Narasi di atas adalah kata pengantar sekaligus contoh nyata dari banyaknya peristiwa yang terjadi di masyarakat, khususnya kota ini. Sisi lain yang tak tertangkap kamera wisatawan pemburu foto estetis Malioboro. Image yang disematkan kepada Jogja sebetulnya tak selalu sama dengan apa yang diperbincangkan para pendatang. Kami sebagai pribumi asli yang lahir dan tumbuh di sini sudah merasakan asam manisnya sendiri. Kota yang katanya terpelajar, berhati nyaman, SDM tertinggi di Indonesia. Namun, apakah benar demikian?

Yogyakarta dijuluki sebagai kota pelajar, tetapi pada realitanya masih banyak permasalahan dalam dunia pendidikan, seperti tingginya angka putus sekolah, kasus pungutan liar, penyalahgunaan dana Bantuan Operasional Sekolah, dan korupsi di bidang pendidikan. Sebutan “Oknum” hanyalah omong kosong, orang-orang seperti itu selalu ada di setiap instansi pendidikan. Mereka tak sendirian dalam melakukan aksinya, bahkan kerap dijumpai kepala sekolah bersekongkol dengan bawahannya, semua itu menurun dari atas ke bawah lalu menguat sampai akarnya.



Gejala sosial lainnya juga dapat ditemui pada kehidupan pelajarnya. Darah muda yang menggebu-gebu seakan menjadi doping untuk mengeksplorasi banyak hal di luar sana. Banyak dari mereka mampu mengendalikan diri kemudian mengarahkannya pada jalan yang benar. Di sisi lain, meskipun ada upaya positif, banyak anak muda yang masih salah membawa diri kemudian terjebak dalam siklus negatif.Banyak yang terjebak dalam rutinitas monoton yang tidak membawa kemajuan. Kehidupan di pinggiran sering kali menuntut mereka untuk beradaptasi dengan situasi yang tidak ideal, tekanan dari lingkungan sekitar entah dari keluarga, teman, atau media sosial sering kali membuat mereka merasa tidak cukup baik. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain menambah beban mental, yang pada gilirannya memicu stres dan kecemasan.

Hal ini membuat mereka merasa putus asa, dan beberapa dari mereka mulai mencari jalan pintas melalui tindakan kriminal atau bergabung dengan kelompok-kelompok yang menawarkan rasa kebersamaan, meskipun itu berisiko. Banyak yang mencari pelarian dengan alkohol atau obat-obatan pereda kecemasan, berpikir itu bisa membantu mereka melupakan masalah sejenak. Situasi ini menciptakan spiral negatif yang mengganggu perkembangan mereka, menjauhkan dari cita-cita yang seharusnya bisa dicapai.



Miris memang melihat keadaan kota ini, sebenarnya masih banyak lagi penyakit yang bersarang dan tak kunjung disembuhkan oleh pemerintah. Upah minimum rendah, harga tanah melangit, kejahatan jalanan sulitnya mencari lapangan pekerjaan, dan sampah yang merusak wajah cantik kota. Sebagai masyarakat tentu kita hidup berdampingan dengan itu semua. Yogyakarta memang memiliki segudang potensi pun juga dengan segudang permasalahannya.

Thursday, 12 September 2024

Merawat Cita Tak Semudah Kata. GAS! - FSTVLST

“Berjalan Tak Seperti Rencana Adalah Jalan Yang Sudah Biasa.”



Pada ulasan ini saya ingin sedikit bercerita tentang FSTVLST dibaca Festivalist. Sebuah band beraliran Almost Rock Barely Art. Terlahir pada 2011 di kampus seni rupa Sewonderland. FSTVLST adalah transformasi dari Jenny yang sudah terbentuk pada tahun 2003 silam. Diprakarsai oleh Farid Stevy - Vokal, Roby Setiawan - Guitar, Humam Mufid - Bass, Danish Wisnu - Drum, Rio Faradino - Keyboard.

Karya FSTVLST dan orang - orang di dalamnya cukup berpengaruh di hidup saya. mulai dari pandangan hingga cara menjalani dan menyikapi suatu peristiwa dalam kehidupan baik itu suka ataupun luka. Bagi saya FSTVLST bukanlah sekedar band yang berisi bapak - bapak keren. Lebih dari itu FSTVLST hadir sebagai falsafah hidup anak muda seperti saya dengan segala ceritanya.

Beberapa track seperti Gas, Hujan Mata Pisau, Satu Terbela Selalu, dan Menantang Rasi Bintang. Bagaikan ayat - ayat dalam doa yang selalu dihafal dan dirapalkan di setiap waktunya. Awal pertemuan dengan FSTVLST adalah 3 tahun lalu. Kala itu saya duduk di bangku SMP. Masih teringat setiap perjalanan dari rumah menuju sekolah selalu ditemani dengan GAS! yang berkumandang di speaker mobil Bapak. Lama kelamaan saya mulai mendengarkan lagu yang lain, ya walaupun terdengar antimainstream dan asing pada awalnya. Entah mau dibawa kemana genre yang dibawakan band ini, dibilang rock juga gak keras-keras banget namun tiap liriknya ditulis kritis. Dan akhirnya mereka menciptakan genre nya sendiri yaitu Almost Rock Barely Art, memang band yang suka mutusi dewe. Sejak saat itu, panggung demi panggung FSTVLST selalu saya upayakan untuk dikunjungi dan menemani di setiap akhir pekan.


9 September 2018. FSTVLST merilis single baru berjudul ‘GAS!’, salah satu track dari album II. Lagu ini cukup mewakili kegagalan namun diimbangi dengan optimisme yang membakar dari dalam diri. Mengubah rasa keputusasaan menjadi semangat perlawanan, seolah mengingatkan kembali pada kita. Bahwa setiap manusia yang hidup pasti memiliki rencana dan cita - cita lalu akan gagal pada waktunya. Kegagalan tersebut menjadi simbol manusia yang hidup. Dan dari setiap kegagalan pastinya akan membuka lembaran baru. Di sini kita diajarkan untuk dapat menerima keadaan walaupun jauh dari pengharapan. Dan tetap GAS! melaju kencang di rute yang tak selalu aman. Ketika saya menyimak Video clip GAS! di YouTube, Kerap kali air mata ini menetes kala membaca suara hati teman - teman di kolom komentar. Banyak dari mereka berbagi perjalanan hidupnya. Ada yang hampir di D.O, Gagal meraih cita - cita, salah jurusan, dan lainnya. Lagu ini menyalakan api semangat mereka yang telah padam. Sampai sekarang GAS! menjadi soundtrack andalan saya untuk menjalani hidup penuh komedi ini, bagaimanapun juga kita harus tetap melangkah.





Merefleksikan lirik dalam lagu GAS!





Bait 1

Mengingat bagaimana ini bermula
sudah sejauh ini jalannya

 Membawa kita kembali pada titik awal di mana semua ini bermula hingga kita sampai pada titik sekarang. mengingatkan kita pada motivasi dan usaha apa saja yang telah kita lakukan sampai sejauh ini.

Sudah berangkat semenjak pagi merah tertelan bulat di cakrawala senja

Menggambarkan tentang semangat kerja keras sampai titik darah penghabisan demi terwujudnya keberhasilan 


Bergegas terburu dan tergesa menjadi hafalan di luar kepala

Repetisi yang terus berulang menjadi makanan sehari - hari


Rapal lirih larik doa hirup dan hembuskan cita -cita

Manusia hidup bukan dari roti saja melainkan dari rangkaian cita - cita dan doa


Bait 2


Sementara dalam rasa tak ada yang salah dan baik - baik saja

Sebenarnya dalam paham bukanlah ini rencananya

Menceritakan tentang rencana dan pengharapan kita lalu melihat apa yang terjadi sekarang jauh dari itu semua.


Berjalan tak seperti rencana adalah jalan yang sudah biasa dan jalan satu - satunya jalani sebaik kau bisa

Penggalangan lirik ini menjadi motto hidup saya mungkin juga bagi beberapa orang. Aku, kamu, mereka pasti pernah putus asa, gagal dan kecewa. Mari bersama kita jalani sebaik yang kita bisa.

GAS!





















AKU DI MATRAMAN, KAU DI KOTA KEMBANG.

M atraman, Minggu pagi, 26 Juli 2026. Jalanan Tambak mendadak berubah  menjadi arena kekerasan. Dalam hitungan menit, kerumunan berkumpul, p...